• Penyakit
  • Obat
  • Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Konsultasi
  • Cari Rumah Sakit
  • Tentang Kami
  • Daftar
  • Masuk
  • Daftar
  • Masuk

Diabetes Melitus

Diabetes atau diabetes melitus adalah salah satu jenis penyakit metabolisme. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF), terdapat sekitar 10 juta kasus diabetes yang tercatat di Indonesia pada tahun 2015.

Sebagian besar makanan yang kita konsumsi akan dicerna hingga menjadi glukosa, yaitu bentuk gula dalam darah. Glukosa kemudian masuk dalam aliran darah dan dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi dan pertumbuhan.

Hanya saja, sel-sel membutuhkan hormon insulin yang diproduksi pankreas agar dapat memanfaatkan glukosa.

Kenapa Seseorang Mengidap Diabetes Melitus?

Penderita diabetes memiliki gangguan pada produksi insulin dalam tubuhnya. Penyakit ini dapat terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin, produksi yang terlalu sedikit, atau tubuh tidak merespons terhadap hormon insulin.

Hal ini membuat tingkat gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia) pada penderita, hingga bisa ikut keluar melalui urine saat buang air kecil. Sayangnya, sel-sel tubuh tidak memperoleh cukup energi meski tubuh memiliki banyak glukosa.

Penyakit ini penting didiagnosis sedini mungkin. Jika tidak ditangangi dengan tepat, dapat mengganggu kesehatan yang lebih berat.

Hingga saat ini gangguan metabolisme ini tidak dapat disembuhkan. Agar tetap sehat, penderita harus mengendalikan pola makan atau mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Jenis-jenis Diabetes Melitus

Tidak semua orang yang memiliki kadar gula lebih tinggi dari normal otomatis menajdi pengidap diabetes. Kondisi ini tergolong dalam kategori prediabetes.

Meski demikian, orang dengan prediabetes memiliki kemungkinan lebih berisiko terkena diabetes. Penyakit ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

Diabetes Tipe 1

Pada tipe 1, tubuh sama sekali tidak memproduksi hormon insulin. Umumnya diabetes jenis ini terjadi pada usia remaja, awal usia dewasa, atau di bawah usia 40 tahun.

Diabetes tipe 1 tergolong jarang jika dibandingkan diabetes tipe 2. Untuk mengatasinya, penderita perlu mendapat suntikan insulin sepanjang hidup. Pemeriksaan tingkat gula darah teratur dan pola makan khusus juga harus diterapkan.

Diabetes Tipe 2

Hampir sebagian besar diabetes melitus yang terjadi, tergolong diabetes tipe 2. Pada kondisi ini, produksi insulin dari tubuh tidak mencukupi kebutuhan atau sel tubuh tidak bereaksi terhadap insulin.

Diabetes tipe 2 umumnya muncul pada usia di atas 40 tahun. Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi.

Demikian pula dengan orang yang kurang aktif berolahraga. Penambahan usia juga meningkatkan risiko diabetes tipe ini.

Diabetes Gestasional

Diabetes ini merupakan kondisi khusus pada saat hamil. Sebagian ibu hamil mengalami tingkat gula darah yang sangat tinggi, sehingga tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin yang mencukupi.

Dengan olahraga dan pola makan, umumnya diabetes ini dapat dikendalikan. Namun sebagian juga memerlukan bantuan obat.

Jika tidak terkendali, ibu hamil dengan diabetes gestasional dapat memiliki risiko komplikasi saat persalinan. Berat badan bayi juga mungkin akan berlebih.

Jika Seseorang Terkena Diabetes Melitus

Gejala diabetes berbeda-beda pada tiap orang. Ini tergantung pada seberapa banyak peningkatan kadar gula dalam darah.

Sebagian penderita prediabetes atau diabetes tipe 2, tidak merasakan gejala apa-apa. Sementara pada penderita diabetes tipe 1, umumnya gejala akan timbul secara tiba-tiba dan lebih parah dibanding jenis lain.

Diabetes tipe 1 dan tipe 2 memiliki indikasi yang umumnya serupa. Biasanya berupa:

  • Lebih sering buang air kecil.
  • Sering merasa haus atau kelaparan.
  • Berat badan mengalami penurunan, tanpa alasan.
  • Merasa lemas.
  • Pandangan kabur atau tidak jelas.
  • Luka yang lama sembuh.
  • Seringkali timbul infeksi, misalnya di gusi, kulit, atau vagina.

Proses Diagnosis Diabetes Melitus

Khusus untuk memastikan diagnosis diabetes tipe 1, dokter akan meminta tes urine. Pemeriksaan ini akan meneliti apakah ada keton sebagai pertanda penggunaan otot atau jaringan lemak untuk energi.

Di samping itu, pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan dengan tes darah. Jenis-jenisnya meliputi:

Tes Darah Sewaktu-waktu

Tes ini bisa dilakukan kapan saja. Kadar gula darah lebih dari 200 miligram per desiliter (mg/dL), akan dianggap sebagai diabetes.

Tes Gula Darah Puasa

Sampel darah diambil setelah puasa semalaman. Tingkat gula darah kurang dari 100 mg/dL dianggap normal.

Jika melebihi 100-125 mg/dL, akan dianggap pra-diabetes. Sementara tingkat gula darah lebih 126 mg/dL menandakan diabetes.

Tes Toleransi Glukosa Oral

Pemeriksaan ini juga mensyaratkan puasa semalaman. Anda kemudian akan diminta minum cairan manis. Lalu dilakukan pemeriksaan gula darah 2 jam kemudian.

Tingkat gula darah kurang dari 140 mg/dL dianggap normal. Sementara 140-199 mg/dL termasuk pra-diabetes dan yang lebih dari 200 mg/dL termasuk diabetes.

Cara Mengendalikan Diabetes Melitus

Jangan khawatir, semua jenis diabetes melitus dapat ditangani meski tidak dapat disembuhkan.

Untuk mengatasi diabetes tipe 1, perlu mendapat suntikan insulin sepanjang hidup. Pasien juga dianjurkan untuk memeriksakan tingkat gula darah secara teratur dan mengikuti pola makan khusus.

Diabetes tipe 2 dapat dikendalikan dengan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga teratur. Pengidap juga harus rutin memeriksa tingkat gula darahnya.

Meski demikian, sebagian kondisi pengidap tipe 2 dapat memburuk hingga perlu tambahan insulin. Umumnya insulin yang berupa tablet atau suntikan.

Konsultasi ke dokter untuk kondisi diabetes melitus yang Anda alami, termasuk pola makan dan obat yang harus dikonsumsi. Khususnya bagi diabetes gestasional pada ibu hamil.

Komentar
Konsul
LOADING ..