• Penyakit
  • Obat
  • Kategori
    • Hidup Sehat
    • Kecantikan
    • Ibu dan Bayi
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Intim
  • Konsultasi
  • Cari Rumah Sakit
  • Tentang Kami
  • Daftar
  • Masuk
  • Daftar
  • Masuk

Migrain

Migrain adalah kondisi sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri berdenyut-denyut. Umumnya dapat terjadi hanya pada satu sisi kepala. Tidak jarang juga disertai dengan gejala lain, seperti sensitif terhadap cahaya, mual, dan muntah.

Penderita biasanya akan mengalami gejala sebelumnya, termasuk kilatan cahaya, bintik hitam pada pandangan (blind spot). Selain itu, penderita juga dapat mengalami gejala rasa kesemutan pada salah satu bagian wajah, tangan, atau kaki.

Serangan sakit kepala ini dapat terjadi selama beberapa jam, hingga beberapa hari. Jika tergolong parah, kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya tidak mampu beraktivitas.

Sebagian penderita dapat mengalaminya beberapa kali dalam seminggu, sementara yang lain hanya sesekali. Bahkan bisa bertahun-tahun tanpa mengalaminya sama sekali.

Kondisi ini lebih banyak diderita kalangan usia 15-55 tahun. Sakit kepala ini dapat dicegah dan diatasi dengan obat. Tiap jenisnya, membutuhkan pengobatan yang berbeda.

Beberapa Jenis Migrain

Migrain tanpa aura merupakan jenis yang paling sering terjadi. Jenis ini terjadi tanpa gejala atau tanda sebelumnya. Selain itu, ada beberapa jenis lain, seperti:

  • Migrain dengan aura. Migrain ini diawali dengan tanda peringatan yang timbul, seperti kilatan cahaya.
  • Migrain dengan aura tanpa sakit kepala. Kondisi ini terjadi ketika timbul aura dan gejala migrain, tapi tanpa disertai sakit kepala.

Mengenali Gejala Migrain

Gejala kondisi ini bisa berbeda-beda, tergantung jenisnya. Indikasi tersebut bisa timbul sebelum, selama dan setelah sakit kepala. Beberapa gejalanya antara lain:

  • Merasa mual atau muntah.
  • Rasa nyeri yang berdenyut pada kepala.
  • Sensitif terhadap cahaya dan suara.
  • Sulit untuk melakukan aktivitas rutin.
  • Rasa nyeri bertambah ketika melakukan aktivitas fisik.
  • Berkeringat, sakit perut atau diare.

Bagi penderita migrain dengan aura, umumnya gejala yang timbul ditambah dengan gejala seperti:

  • Kilatan cahaya.
  • Garis zig-zag pada pandangan.
  • Bintik hitam saat melihat.
  • Bingung atau sulit berpikir.
  • Gangguan saat berbicara.
  • Bahu, leher, atau bagian tubuh lain yang kaku.
  • Bau yang tidak sedap.

Ketika penderita migrain dengan aura mengalami gangguan pandangan, ada kemungkinan melihat benda yang sebenarnya tidak ada atau bahkan tidak melihat benda yang ada di hadapannya. Bila melihat kilatan cahaya, dapat terasa seakan seperti kilatan kamera. Penderita juga dapat merasakan kehilangan kemampuan melihat sementara, dan lain-lain.

Memahami Penyebab dan Pemicu Migrain

Penyebab kondisi ini sulit dipastikan. Faktor lingkungan dan genetik dianggap sebagai salah satu faktor penyebab.

Sakit kepala sebelah ini dapat timbul ketika terjadi perubahan dalam batang otak dan interaksi dengan saraf trigeminal. Perubahan keseimbangan kimiawi otak, termasuk serotonin, juga dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Sebab, tingkat serotonin pada anak akan turutn drastis saat serangan migrain, membuat saraf trigeminal mengeluarkan kimiawi yang menyebabkan rasa sakit.

Pemicu pada tiap orang bisa berbeda. Pada wanita, perubahan hormon bisa berperan. Jika seorang wanita yang memiliki riwayat migrain, kemungkinan akan mengalaminya sebelum atau selama menstruasi.

Ada pula wanita yang merasakan lebih sering menderita sakit kepala ini saat hamil atau menopause. Demikian pula, obat hormonal dapat memengaruhi kemunculannya pada wanita. Termasuk kontrasepsi oral atau terapi pengganti hormon.

Untuk pemicu yang lebih umum, termasuk keju, makanan dengan kandungan garam tinggi, penambah rasa makanan (monosodium glutamate/MSG) atau melewatkan waktu makan. Minuman seperti alkohol, wine atau minuman mengandung kafein juga dapat memicu kondisi ini.

Di samping itu, terdapat pula beberapa pemicu lainnya, seperti:

  • Dalam kondisi stres.
  • Perubahan waktu tidur.
  • Aktivitas fisik yang berlebihan.
  • Perubahan lingkungan, seperti cuaca atau tekanan.
  • Terpapar stimulan, seperti paparan matahari yang terik, suara yang keras atau bau yang tajam.

Cara Mendiagnosis Migrain

Meski gejala-gejala mudah diamati, namun tidak jarang sakit kepala sebelah ini sulit diidentifikasi terutama jeniis migrain tanpa aura.

Kondisi ini umumnya terjadi minimal lima kali atau lebih. Dengan duransi 4 jam hingga 3 hari. Sakit kepala dengan kategori ini juga umumnya diidentifikasi dari rasa nyeri berdenyut yang dirasakan. Mulai dari tingkat sedang hingga sangat parah, hingga mengganggu aktivitas rutin.

Ada pula gejala lain yang sangat umum mengiringinya, yaitu mual, muntah, sensitif terhadap cahaya atau suara.

Untuk membantu diagnosis, catatan dari penderita bisa membantu. Informasi tersebut termasuk kapan saja migrain timbul, berapa lama sakit kepala sebelah ini muncul,gejala yang dirasakan sebelumnya, perkiraan pemicu dan lain-lain.

Jika dicurigai sebagai migrain, dokter dapat memberikan rekomendasi pemeriksaan lanjutan termasuk electroencephalography (EEG), computed tomography atau CT-scan, magnetic resonance imaging (MRI) dan pengambilan cairan pada lumbar tulang belakang atau pungsi lumbal (spinal tap).

Langkah Mengatasi Migrain

Cara mengatasi kondisi ini umumnya fokus pada mengurangi gejala yang dirasakan. Sebab, hingga saat ini belum ada obat untuk sakit kepala sebelah ini.

Obat yang dapat digunakan untuk mengurangi gejalanya, termasuk obat pereda nyeri, seperti paracetamol dan ibuprofen. Obat antiemetik yang dapat mengurangi mual dan muntah, juga biasa diberikan pada penderita.

Ada pula obat jenis triptan yang akan membantu memperbaiki perubahan pada otak saat migrain menyerang. Selama sakit kepala sebelah ini terasa, tindakan lain yang dapat membantu seperti berbaring atau tidur di ruang yang gelap.

Komentar
Konsul
LOADING ..